PAMIT!!

Aku mengetik tulisan ini dalam keadaan jemari yang bergetar, isi kepala yang akan pecah, dada yang sesak dan mata yang hujan entah dari mana. Aku pikir perjalananku sudah mencapai cukup atau paling tidak hampir, tapi ternyata langkah-langkah yang aku tuju masih jauh, bahkan mungkin salah arah.

Aku mengetik tulisan ini dalam keadaan tubuh yang ingin mati, kepala ingin sekali memaki, dan hati yang ingin sekali ditusuk berkali-kali. Aku pikir, bahagiaku sudah cukup atau paling tidak aku tak akan pernah terluka, tapi ternyata ekspektasiku terlalu berlebihan. Aku patah sedangkan aku masih salah arah.

Aku mengetik tulisan ini untuk mundur, dari hati yang sudah terlanjur dan cinta yang tak begitu mujur.

Aku pamit.
Menjadi yang terbaik dan menyenangkan adalah hal yang sia-sia.

STMAJCSH

Seseorang Telah Memabuatku Jatuh Cinta Setiap Hari

Aku mungkin sedang beruntung, bukan karena menemukanmu atau juga bukan karena kau menemukanku, tapi ketika pertemuan terjadi, kita saling mengenal sebagai sepasang manusia yang pernah mengutuk masa lalu.

Aku mungkin sedang beruntung, bukan karena mengenalmu atau juga bukan karena kau mau mengenalku, tapi ketika perkenalan terjadi, kita mulai cerita tentang banyak hal, hingga memenuhi isi kepala lalu jatuhlah cinta perlahan-lahan di dada.

Begitu panjang jalanku menuju hari di mana aku menemukanmu, aku harus melewati banyak patah, kecewa dan kesedihan yang berulang. Tak mudah rasanya membiasakan diri untuk tetap kuat atau harus pura-pura baik-baik saja, karena aku benci keadaan di mana aku menangis, aku tak menemukan alasan untuk hidup yang lebih panjang.

Lalu kamu datang, mengizinkan aku mengenalmu lebih dalam, memberi aku banyak alasan untuk tetap bertahan dan membiarkan aku mempercayai hatimu, untukku perjuangkan.

Lalu kamu datang. Tidak, tidak akan, aku tak akan pernah mengartikan kedatanganmu ini sebagai hadiah dari Tuhan. Kan kuartikan, kehadiranmu sebagai keberuntunganku yang memang seharusnya kudapatkan. Seharusnya memang begitu, bukankah pertemuan adalah takdir yang tidak sengaja?

ah terima kasih, kamu telah membuat aku jatuh cinta setiap hari. Aku beruntung dan biarkan aku membuktikan juga, kalau kamu juga sedang beruntung.

Sebuah Keputusan

Tulisan ini adalah sebuah keputusan untuk membalas isi kepala seseorang yang sedang menjadikan aku tujuannya. : Tentang Pernikahan

 —-

Hidupku tak pernah dihadapkan dengan pilihan-pilihan, sampai pada suatu waktu aku menemukan sebuah keputusan, pertimbangan, dan kepastian. Aku tak pernah ragu, walaupun jalannya sedikit rumit, tapi kutahu pasti aku sedang mengambil jalan yang tepat, berdampingan dengan seseorang yang nantinya jadi tempat merehatkan penat.

Pada akhirnya perjalananku dan dia sampai pada suatu titik– tentang pernikahan.

Ahhh, segalanya abu-abu bagiku dulu, tak pernah tampak di bayangan, bukan jadi tujuan, dan belum pernah terpikirkan bagaimana caranya menjadi seorang suami sekaligus ayah yang akan membimbing keluarganya. Tidak, tak pernah aku bayangkan, paling tidak belum.

Apakah aku pantas?
Apakah aku bisa membimbing seorang istri?
Apakah aku siap menanggung beban tanggung jawab?
Apakah aku akan diterima oleh keluarga pasangan?

Begitu banyak ‘apakah’ atau ‘bagaiamana’ di dalam kepala, sehingga bayangan tentang pernikahan, jauh dari kata ingin, paling tidak belum.

Paling tidak belum, pada akhirnya aku dihadapkan lagi dengan keputusan.

Di mana ketika menatap matanya, aku berkata ingin.
Di mana ketika diyakinkan kata-katanya, aku siap.
Di mana ketika aku merasakan caranya dia mencintaiku, aku yakin.
Di mana ketika setiap bersamanya, kita nyambung.
Di mana setiap obrolan selalu melahirkan tawa.

Begitu banyak hal baru yang kurasakan ketika bersamanya dan membuatku sadar yang aku cari selama ini ternyata bukan hanya pendamping tapi bagaimana aku bisa hidup dengan seseorang dengan cerita-cerita yang panjang.

Dan Begitu banyak ‘ketika’ di dalam kepala, sehingga bayangan tentang keputusan, membuatku aku yakin, dia adalah orang yang telah disediakan Tuhan untuk membahas tentang pernikahan.

“Terima kasih Tuhan, aku siap”

Sepakat

Kita bergandengan tangan, saling menggenggam perasaan dan memang tak bisa dipaksakan di ujung jalan kita memlih takdir Tuhan, aku mencoba bertahan sedangkan kau tanpa ragu melepaskan.

Akhirnya kita menjadi asing, seperti dua pasang manusia yang tak pernah saling kenal, seperti dua pasang manusia yang kembali ganjil di hati masing-masing, seperti pelukan yang hilang dari dada dan seperti sepasang manusia yang kembali merawat luka.

Tak ada yang pantas disalahkan dengan pilihan yang diberikan, akhirnya kita hanya bisa sepakat, perpisahan adalah cara Tuhan menyelamatkan kita dari luka yang berkepanjangan.


Megi Fernanda, 15 Desember 2018
Pict : http://www.canva.com

Dialog Malam

Ada malam yang jatuh di kepala, memperpanjang waktu lebih lama, membiarkan mata terbuka, enggan terpejam oleh ingatan yang tajam.

Aku sedang ingin bercerita kepada siapa saja, termasuk diriku sendiri lalu kutatap wajah seseorang di depan cermin. Apa yang sedang kau ingat?, hatimu butuh istirahat, paling tidak jangan biarkan air matamu jatuh, aku benci melihat diriku sendiri yang tak patuh.

Bagaimana kalau malam ini kita perpanjang lagi, dengan dialog-dialog diri sendiri, membahas tentang mimpi atau mungkin banyak hal tentang yang baik-baik di masa depan, atau bisa juga bercerita hal baik tentang melupakan. Paling tidak nanti, kita sepakat untuk tidak khawatir lagi, dengan ingatan yang tak tahu diri, yang seenaknya membiarkan kenangan buruk hadir tanpa permisi.

Kubiarkan malam jatuh di kepala lebih lama, tapi tidak dengan air mata, meski tentang hal buruk selalu saja menjadi doa pembuka sebelum tidur, aku tidak mengeluh. Hanya karena aku jatuh, bukan berarti aku rapuh, Tuhan masih mencintaiku dengan masih memberi umur. Bertahan atau dikalahkan. Aku pilih melupakan.

Image by Canva.com

Amarah

Aku sedang iri dengan cermin di kamarmu, menatapmu lebih sering dari aku yang mencintaimu. Aku sedang mengecam langit-langit rumahmu, selalu ada menyediakan tempat air matamu berteduh. Aku sedang marah dengan sepasang lengan ini, yang dulu sempat memelukmu lalu melupakan. Aku benci dengan waktu, ia tak pernah mengizinkan kembali pada masa lalu, tepat sebelum kubuat kau kecewa.

Perasaan-perasaan amarah di atas kepala ini sedang memaki diri sendiri, mengeluarkan pertanyaan sedang apa kau di sana? apakah dilukai oleh aku kau mampu lebih baik lagi memilih seseorang yang baru? apakah pertikaian kita yang lalu membuatmu mendoakanku semenderita ini?

Cintai kekasihmu seperti kau mencintai aku dulu. Dicintaimu, membuat seseorang seperti aku menyesal ditinggalkan.

Semoga kau baik-baik saja dengan dia, agar kisah ini aku anggap cara Tuhan memilihkanmu bahagia lainnya.

image by : canva.com

Pertemuan (2)

Aku mulai merindukan pertemuan, tepat setelah Tuhan mengizinkan aku dan kamu bertatap muka, di depan takdir yang barangkali memang untuk kita.

Aku mulai jatuh cinta dengan pertemuan, tepat pertama kali kita bertukar senyuman atau mungkin saat kutatap ke dalam matamu yang lembut, kulihat langit terpampang luas dengan cerahnya.

Aku bersyukur dengan pertemuan, karena di matamu yang langit, aku ingin mengembara, menemukanmu lebih jauh lagi, mencari tentangmu lebih luas lagi, bercerita bersamamu lebih lama lagi, sampai pada akhirnya saat nanti aku menuju hatimu, kamu dengan hati yang lapang menyambut pengembara yang sedang pulang.

Aku tak ingin mengakhiri pertemuan, sebenci itu aku dengan perpisahan, harus ada rindu mesti dituntaskan, sedangkan aku sedang ingin bercerita dan menatapmu lebih lama, agar menuju hatimu aku tak menempuh jalan yang sia-sia.

Mungkin begini, barangkali kita sedang menjalankan takdir untuk saling menemukan dan kita tak lagi menjadi sepasang manusia yang asing di hati masing-masing. Pada akhirnya, takdir kita berubah untuk merawat pertemuan.

Harga pertemuan itu mahal.
Jangan dibayar dengan perpisahan.

image by : canva.com

Aku Berhenti Menulis

Aku pikir selama ini aku hanya satu-satunya, aku pikir aku spesial karena cuman satu-satunya diucapkan selamat pagi, aku pikir cuman aku yang diberi kabar dan pada akhirnya, aku berhenti menulis tentang seberapa pentingnya aku di hidupmu.

Aku sudah terlanjur menjadikan kau satu-satunya, aku sudah terlalu jauh berusaha membuatmu nyaman setiap pagi, aku sudah terlalu sering memberi kabar pada resah di dadamu dan pada akhirnya, aku berhenti menulis tentang seberapa pentingnya kamu di hidupku.

Aku berhenti menulis, tentangmu.
Aku tak ingin mengabadikan kesalahanku mencintaimu dalam bentuk tulisan.

Dan tolong bantu aku, untuk tidak berhenti menulis, tentangmu.

 

image by : canva.com

Sedang Kuusahakan

Hai, halo ini kolaborasi pertama bersama @nanidlot . Sebelum melanjutkan baca tulisan ini, boleh silakan baca tulisan Kita Ini Apa? karya @nanidlot . Terima kasih, selamat membaca.

Pertemuan_(2)

Katamu
Kita ini apa?
Kita ini bagaimana?

Kita adalah sepasang perasaan yang liar, tumbuh begitu saja di dada, tak perlu dekat untuk menatap, tak perlu tempat untuk menetap. Memaksa hadir meski tak pernah tampak di depan mata. ahh cinta, memang sebercanda itu, jatuh kapan saja. Aku pikir kau sedang merasakannya, makanya kau bertanya tentang kita.

Kita ingin saling menemukan, menjadikan nyata rasa yang ada, agar tak hanya tumbuh di dada tapi juga hadir di tatapan kita. Kita ingin saling menjemput, tapi barangkali kita hanya takut, apakah perasaan ini benar-benar ada atau seperti katamu, ini semua hanya sebatas jiwa yang ingin berdua? atau kesalahan yang dipaksa? atau pementasan sebuah drama?

Sial, begitu pengecutnya, menyalahkan takdir yang mendekat hanya karena belum siap.

Kau tak perlu bertaruh apa-apa tentang siapa yang merindu, aku dan kau akan kalah, dan rindu menang di dalam kepala kita masing-masing. Entah bagaimana dia bisa ada, mungkin karena obrolan-obrolan panjang kita tiap malam yang belum sempat jadi nyata.

Kau tak perlu mencemaskan apa-apa tentang kedekatan kita, sebelum kamu, aku sudah banyak mengorbankan banyak pertemuan-pertemuan yang salah, mengorbankan hati sendiri di tempat yang salah, memberi nyaman pada seseorang yang salah. Begitu jauh perjalananku menemukanmu dan ketika kita sedekat ini, jangan beri pertanyaan dengan prasangka-prasangka yang kau khawatirkan sendiri. Aku takut, ternyata aku bukanlah jawaban-jawaban dari pertanyaanmu.

Aku mungkin tak pernah bisa memastikan kita
Aku mungkin tak pernah bisa memberi jawaban untuk menenangkan dada
Aku mungkin tak pernah bisa menemukan semua jawaban dari banyak pertanyaanmu

Begini saja
Bagaimana kalau kita menjinakkan perasaan ini?
Bagaimana kalau sama-sama memastikan kita?
Bagaimana kalau bertaruh lagi mengalahkan rindu dengan pertemuan yang nyata?
Bagaimana kalau kita bertukar isi kepala, di sebuah cafe favoritmu dengan secangkir minuman kesukaanmu, tentunya aku akan memilih minuman yang sama, karena mungkin saat itu, aku akan grogi di dekatmu atau sekadar ingin merasakan sebahagia apa kamu saat meneguk minuman kesukaanmu.

Bagaimana? barangkali di obrolan yang nyata, hati kita akan sama-sama menemukan semua pertanyaan yang sedang kau khawatirkan.

Jika tidak
Jangan biarkan aku jatuh ke tempat yang salah lagi
Karena cukup adil bagiku, kalau kau adalah satu-satunya yang kuminta pada semesta agar pertemuan ini tidak bercanda.

Dia

Pertemuan_(1)
Dia..
datang menemui perasaan
merubuhkan banyak pertahanan
dari sekali senyuman.

Dia..
menawarkan banyak tawa
tak ada tawar menawar harga
kubeli banyak bahagia
dari sekali senyuman.

Dia..
mulai menyentuh hati
dijatuhkannya cinta berkali-kali
dari sekali senyuman.

Dia..
tak akan kubiarkan pergi
Karena aku benci dia akan menciptakan perpisahan, ketika pertemuan sudah terjadi.